Pada dasarnya, komunikasi merupakan penyaluran gagasan mengenai pemikiran atau sesuatu yang bersifat fisik maupun non fisik, abstrak maupun nonabstrak, verbal, tekstual, maupun visual. Mengobrol dan diskusi merupakan kegiatan komunikasi verbal. Sedangkan surat, buku, koran, majalah merupakan bentuk komunikasi tekstual.
Bentuk komunikasi visual dapat ditemui pada foto, gambar, tanda lalu lintas.
Satu hal yang sering dilupakan banyak orang adalah olfactual atau komunikasi melalui indra penciuman dan peraba.
Secara garis besar, peranan komunikasi visual dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian:
1. identitas/jati diri/brand; di sini bentuk visual digunakan untuk menandai seseorang atau aspirasi kelompok, baik perusahaan maupun partai politik, negara, ataupun agama. Contohnya adalah bendera, lambang, dan logo.
2. informasi/penerangan; bersifat memberi tahu agar orang yang melihat (pembaca visual) mendapat pengertian. Contohnya peta, rambu lalu-lintas, dan papan penerangan.
3. persuasi/pembujukan; merupakan usaha agar orang yang melihat (pembaca visual0 terpengaruh untuk mengikuti saran si pemberi pesan. Ini dapat kita jumpai pada iklan dan kampanye-kampanye pada media.
Walau peran tersebut terkesan terpisah-pisah, namun sesungguhnya sering terjadi pencampuran. Contoh kasus; perangko yang semula hanya benda informatif tentang bukti porto yang dibayarkan, dalam perkembangannya perangko berubah fungsi menjadi alat persuasi wisata dengan beragam gambar dan corak budaya dan objek wisata suatu daerah atau negara.
Berdasarkan contoh di atas, kita bisa melihat betapa besarnya peranan persuasi dalam komunikasi (siasat menjual gagasan agar orang mau menerimanya). Membujuk dapat dikatakan sebagai bentuk yang lebih berbudaya dibandingkan dengan pemaksaan maupun penyogokan. Persuasi dilakukan melalui penawaran gagasan dalam suatu kondisi tertentu (yang menawarkan dan ditawarkan memiliki kondisi yang sama). Yang ditawari dapat menerima atau menolak tawaran. Situasi ini membuat si penawar harus cerdas dalam menyampaikan maksudnya.
Latar belakang pihak yang ditawari menjadi pertimbangan utama. Kondisi dan situasi masyarakat yang dituju merupakan bahan penelitian pertama untuk mengetahui tabiat, kebiasaan, gambaran, intelektual dan ekonomi, kesenangan, ketakutan, cita-cita, dan aspirasinya.
Mengenali lawan bicara atau target sasaran, menjadi syarat utama sebelum kita bisa mengobrol dan membujuk seorang konsumen.
Senin, 29 Maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)